Nilai tukar rupiah membuka awal tahun dengan tekanan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat. Pada perdagangan awal, rupiah tercatat melemah hingga menyentuh level Rp16.699 per dolar AS. Pelemahan ini mencerminkan sentimen pasar global yang masih didominasi oleh ketidakpastian ekonomi serta penguatan mata uang dolar di pasar internasional.
Penguatan dolar AS terjadi seiring sikap bank sentral Amerika Serikat yang masih cenderung hawkish terkait kebijakan suku bunga. Ekspektasi bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama mendorong arus modal global kembali ke aset-aset berbasis dolar. Kondisi ini memberi tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Dari dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati berbagai faktor seperti defisit transaksi berjalan, kebutuhan impor di awal tahun, serta sikap investor yang cenderung wait and see terhadap arah kebijakan ekonomi ke depan. Kombinasi faktor eksternal dan domestik tersebut membuat pergerakan rupiah belum menemukan momentum penguatan yang solid.
Meski demikian, otoritas moneter diperkirakan tetap berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Bank Indonesia berulang kali menegaskan komitmennya dalam menjaga rupiah agar tetap bergerak sesuai dengan fundamental ekonomi, termasuk melalui intervensi di pasar valas dan pengelolaan likuiditas.
Analis menilai pergerakan rupiah ke depan masih akan volatil. Sentimen global, terutama data inflasi Amerika Serikat, arah kebijakan suku bunga The Fed, serta dinamika geopolitik, akan menjadi faktor penentu utama. Sementara itu, dari dalam negeri, konsistensi kebijakan fiskal dan moneter menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan investor.
Pelemahan rupiah di awal tahun ini menjadi pengingat bahwa stabilitas ekonomi global masih rapuh. Pemerintah dan otoritas terkait diharapkan terus memperkuat koordinasi agar tekanan eksternal dapat diminimalkan dan kepercayaan pasar terhadap ekonomi Indonesia tetap terjaga.