Memasuki tahun 2026, kawasan Asia Tenggara diproyeksikan menghadapi fase yang penuh tantangan. Dinamika politik domestik di sejumlah negara diperkirakan semakin memanas seiring agenda pemilu, konsolidasi kekuasaan, hingga meningkatnya polarisasi di tengah masyarakat. Kondisi ini berpotensi memengaruhi stabilitas pemerintahan dan pengambilan kebijakan strategis, terutama di negara-negara dengan sistem politik yang masih rapuh atau tengah mengalami transisi kepemimpinan.
Dari sisi ekonomi, ketidakpastian global masih menjadi faktor utama yang menekan kawasan. Perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia, fluktuasi harga energi dan pangan, serta kebijakan suku bunga tinggi di negara maju diperkirakan berdampak langsung pada arus investasi dan perdagangan Asia Tenggara. Negara-negara yang bergantung pada ekspor dan investasi asing akan menghadapi tekanan untuk menjaga daya saing sekaligus stabilitas nilai tukar.
Di tengah tekanan tersebut, isu sosial turut menjadi tantangan tersendiri. Kesenjangan ekonomi, inflasi yang memengaruhi daya beli masyarakat, serta meningkatnya angka pengangguran di beberapa sektor berpotensi memicu ketidakpuasan publik. Hal ini dapat memperbesar risiko gejolak sosial dan menambah beban politik bagi pemerintah dalam menjaga stabilitas nasional.
Meski demikian, Asia Tenggara tetap memiliki peluang untuk bertahan dan beradaptasi. Penguatan kerja sama regional, percepatan transformasi digital, serta pengembangan sektor ekonomi hijau dinilai dapat menjadi penopang pertumbuhan jangka menengah. Tahun 2026 akan menjadi periode krusial bagi negara-negara di kawasan ini untuk menyeimbangkan antara stabilitas politik dan ketahanan ekonomi di tengah ketidakpastian yang masih membayangi.