Biar Chat Bukan Cuma Balas, Tapi Bantu Jualan
Di bisnis F&B, chat bukan sekadar layanan pelanggan. Chat adalah pintu masuk pesanan, tempat komplain muncul, sekaligus momen krusial yang menentukan pelanggan repeat order atau tidak.
Masalahnya, banyak chatbot dipasang sekadar “ada”, tanpa setting yang sesuai alur operasional dapur dan outlet.
Artikel ini membahas setting AI chatbot Bablast yang direkomendasikan untuk pengusaha F&B, agar chat terasa natural, cepat, dan berdampak langsung ke penjualan.
Baca Juga: Siapa "Raja AI" di Tahun 2025? Ini Jawaban Terbarunya!
1. Tentukan Peran AI Chatbot Sejak Awal
Kesalahan paling umum adalah mengharapkan chatbot bisa melakukan segalanya. Untuk F&B, peran chatbot sebaiknya jelas sejak awal.
Peran utama yang disarankan:
Menjawab pertanyaan menu & harga
Mengarahkan pelanggan ke pemesanan (online / WhatsApp admin)
Menangani pertanyaan berulang (jam buka, lokasi, promo)
Menyaring komplain sebelum masuk ke tim
Dengan peran yang jelas, AI tidak “kebingungan” dan respon jadi lebih konsisten.
2. Setting Gaya Bahasa: Ramah, Singkat, dan Kontekstual
F&B adalah bisnis emosional. Orang chat sambil lapar, terburu-buru, atau sekadar tanya cepat.
Rekomendasi setting gaya bahasa:
Santai dan ramah, tapi tidak alay
Jawaban singkat, langsung ke inti
Gunakan istilah menu yang sama persis dengan di outlet
Hindari bahasa terlalu teknis atau kaku
Contoh pendekatan:
Alih-alih menjelaskan panjang, AI cukup memberi pilihan cepat dan CTA yang jelas.
3. Prioritaskan Alur Chat Berbasis Menu
AI chatbot F&B sebaiknya menu-centric, bukan FAQ-centric.
Struktur alur yang disarankan:
Tawarkan kategori menu (makanan utama, minuman, paket)
Tampilkan menu favorit / best seller
Beri info harga + porsi secara singkat
Arahkan ke langkah pemesanan
Setting ini membuat chat terasa seperti pramuniaga digital, bukan mesin tanya-jawab.
4. Setting Respons untuk Jam Sibuk (Peak Hour)
Jam makan siang dan malam adalah momen paling rawan chaos. Di sinilah AI harus membantu, bukan memperlambat.
Rekomendasi setting:
Aktifkan jawaban otomatis untuk pertanyaan umum saat peak hour
Informasikan estimasi waktu tunggu dengan jujur
Arahkan order ke channel paling cepat (link order / WA khusus)
Transparansi kecil seperti ini justru meningkatkan kepercayaan pelanggan.
5. Tangani Komplain dengan Mode “De-eskalasi”
AI chatbot tidak boleh defensif saat menghadapi komplain.
Setting yang disarankan:
Validasi emosi pelanggan terlebih dahulu
Jangan langsung menyalahkan sistem atau pelanggan
Arahkan ke admin manusia jika menyangkut refund atau kesalahan serius
Tujuan chatbot di sini bukan menyelesaikan semua masalah, tapi menenangkan situasi dan menjaga pengalaman pelanggan.
6. Integrasikan CTA yang Relevan, Bukan Memaksa
Chatbot yang terlalu agresif jualan justru bikin pelanggan ilfeel.
CTA yang efektif untuk F&B:
“Mau saya kirimkan menu lengkapnya?”
“Ingin pesan sekarang atau lihat promo hari ini?”
“Outlet terdekat dari lokasi kamu ada di…”
CTA berbasis konteks terasa membantu, bukan memaksa.
7. Gunakan Data Chat untuk Evaluasi Operasional
Chatbot bukan hanya alat komunikasi, tapi sumber insight bisnis.
Data yang perlu diperhatikan:
Pertanyaan menu paling sering muncul
Jam chat paling ramai
Komplain yang berulang
Menu yang paling sering ditanyakan tapi jarang dipesan
Dari sini, pengusaha bisa mengevaluasi menu, harga, promo, bahkan kesiapan dapur.
AI chatbot untuk bisnis F&B tidak harus rumit, tapi harus tepat guna. Dengan setting yang sesuai alur operasional dan perilaku pelanggan, chatbot Bablast bisa berperan sebagai frontliner digital yang membantu penjualan, mengurangi beban tim, dan meningkatkan pengalaman pelanggan.
Chat yang baik bukan yang paling canggih, tapi yang paling relevan dengan kondisi lapangan.