Ramadan bukan cuma soal kenaikan demand. Ini soal perubahan perilaku.
Jam aktif konsumen bergeser. Pola respons berubah. Keputusan belanja sering terjadi di momen yang tidak biasa.
Kalau strategi blasting WhatsApp kamu masih pakai pola jam normal (pagi–siang seperti hari biasa), kemungkinan besar performanya tidak maksimal.
Di Ramadan, yang menentukan bukan hanya isi promo. Tapi timing dan segmentasi.
Baca Juga: Tren Digital Marketing 2026: Dari AI hingga Personalisasi yang Semakin Canggih
Perubahan Jam Aktif Konsumen Selama Ramadan
Selama Ramadan, pola digital activity cenderung bergeser ke:
03.00–04.30 (sebelum & saat sahur)
16.30–18.00 (menjelang buka)
20.00–23.30 (setelah tarawih)
Banyak brand masih blasting di jam kerja konvensional. Padahal di Ramadan, konsumen lebih responsif di momen transisi: menjelang makan, setelah ibadah, atau ketika sedang santai malam hari.
Insight-nya sederhana:
Orang belanja ketika emosinya aktif. Dan di Ramadan, momen emosional itu sering terjadi menjelang buka dan malam hari.
Kenapa Timing Blasting Itu Krusial
WhatsApp adalah kanal real-time. Artinya, pesan yang masuk di waktu yang tepat bisa langsung dikonversi.
Beberapa hal yang perlu dipahami:
Promo sahur ideal dikirim H-1 malam atau sekitar pukul 03.00.
Promo buka puasa efektif dikirim pukul 16.00–17.00.
Reminder last call bisa dikirim 30–60 menit sebelum waktu berbuka.
Timing yang presisi bisa meningkatkan open rate, click rate, dan respons chat secara signifikan.
Blasting tanpa strategi waktu hanya akan terlihat seperti spam.
Teknik Segmentasi Database yang Lebih Cerdas
Kesalahan paling umum: semua kontak dipukul rata.
Padahal database WhatsApp bisa disegmentasi berdasarkan:
Riwayat pembelian (menu sahur vs menu buka)
Lokasi (estimasi waktu pengiriman)
Frekuensi transaksi
Respons terhadap campaign sebelumnya
Contoh:
Segment A: pelanggan loyal → kirim promo bundling + upsell.
Segment B: pernah beli sekali → kirim promo diskon ringan + urgency.
Segment C: belum pernah beli → kirim edukasi + soft promo.
Segmentasi meningkatkan relevansi. Dan relevansi meningkatkan conversion rate.
Contoh Format Pesan Blasting yang Efektif
Hindari pesan panjang tanpa struktur.
Gunakan pola ini:
Pembuka personal → Highlight promo → Benefit → Urgency → CTA jelas.
Contoh promo buka puasa:
“Halo Kak 👋
Menu buka hari ini sudah ready!
Paket Hemat Buka Puasa
✔ Ayam + Nasi + Es Teh
✔ Free takjil
✔ Diskon 20% khusus jam 16.00–17.30
Stok terbatas untuk 100 order pertama.
Klik balas ‘BUKA’ untuk langsung diproses ya.”
Kenapa format ini efektif?
Karena jelas, ringkas, dan langsung ke aksi.
Kesalahan Umum Saat Blasting Ramadan
Terlalu sering blasting dalam satu hari.
Tidak ada segmentasi.
Pesan terlalu panjang dan tidak fokus.
Tidak mencantumkan CTA.
Tidak menyiapkan admin atau sistem untuk lonjakan chat.
Blasting yang sukses bukan hanya soal kirim pesan. Tapi memastikan sistem mampu menangani respons yang masuk.
Banyak bisnis berhasil meningkatkan traffic chat, tapi gagal closing karena respons lambat.
Ramadan Butuh Sistem, Bukan Sekadar Promo
Ramadan adalah momentum. Tapi momentum tanpa sistem hanya akan jadi lonjakan sesaat.
Strategi blasting WhatsApp yang efektif harus mencakup:
Analisis jam aktif konsumen
Segmentasi database
Format pesan yang konversi
Sistem respons yang cepat dan otomatis
Kalau ingin performa promo sahur & buka puasa lebih optimal, saatnya evaluasi cara kamu blasting selama ini.
Bukan sekadar kirim pesan massal.
Tapi membangun sistem komunikasi yang tepat waktu, tepat sasaran, dan siap closing.