Operasi Militer dan Penangkapan Maduro
Pada 3 Januari 2026, pasukan militer Amerika Serikat melancarkan operasi di Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro dan istrinya, lalu dibawa ke New York untuk menghadapi dakwaan narkotika dan terorisme. Langkah ini terjadi setelah tekanan intens dari Washington atas tuduhan “negara narkotik” terhadap pemerintah Venezuela.
Trump kemudian menyatakan bahwa AS akan “mengendalikan” Venezuela sampai transisi pemerintahan yang aman dapat terjadi, meskipun pejabat AS lain kemudian mengatakan Washington tidak secara langsung akan mengatur pemerintahan Venezuela.
Kendati demikian, operasi tersebut menimbulkan kematian puluhan tentara Venezuela dan personel keamanan Kuba yang terlibat dalam serangan, termasuk sekitar 32 anggota pasukan Kuba, menurut laporan berita internasional.
Trump dan Minyak Venezuela
Presiden AS juga mengumumkan bahwa Venezuela akan menjual antara 30 sampai 50 juta barel minyak ke AS, dengan pendapatan yang diharapkan untuk dimanfaatkan demi “kepentingan bersama” kedua negara, demikian menurut keterangan resmi Trump.
Selain itu, ada laporan bahwa sanksi terhadap Venezuela akan dilonggarkan, membuka prospek kerja sama energi lebih luas dengan perusahaan minyak AS di masa depan.
Kebijakan AS Terhadap Hubungan Internasional Venezuela
Pemerintahan Trump dikabarkan menuntut agar Caracas menghentikan kerja sama dengan sejumlah negara yang dianggap sebagai rival strategis Washington, termasuk Rusia, China, Iran, dan Kuba, sebagai syarat memperluas produksi dan ekspor minyaknya.
Langkah ini menimbulkan kekhawatiran diplomatik, terutama di Beijing yang mengecam perlakuan AS terhadap Venezuela sebagai bentuk “intimidasi” karena persaingan pengaruh regional.
Di Cuba, media dan warga merasa khawatir atas konsekuensi langsung dari intervensi Venezuela oleh AS. Penangkapan Maduro dan gangguan kerja sama minyak Caracas memberi tekanan besar terhadap perekonomian Kuba yang sangat bergantung pada pasokan subsidi dari Venezuela. Hal ini menciptakan rasa takut akan kemungkinan keterlibatan atau dampak lanjutan pada negara pulau itu.
Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel mengecam operasi AS sebagai “terorisme negara” dan menegaskan tekad negara itu untuk berdiri bersama Venezuela dalam menghadapi apa yang ia sebut campur tangan asing yang melanggar kedaulatan negara.
Beberapa pernyataan Trump memicu spekulasi bahwa kebijakan agresif tersebut tidak berhenti di Venezuela. Trump sempat menyebut kemungkinan operasi terhadap Kolombia untuk menumpas produksi kokain, serta menyiratkan bahwa Cuba “siap runtuh” setelah kehilangan dukungan minyak dari Venezuela.
Kritikus menganggap komentar ini sebagai tanda bahwa kebijakan AS terhadap kawasan semakin keras, tetapi tidak ada bukti resmi bahwa rencana tindakan militer terhadap Cuba atau negara lain sudah siap dilaksanakan oleh Washington.
Dampak Geopolitik dan Global
1. Tegangan Regional Meningkat
Operasi di Venezuela dan ancaman lebih lanjut memicu kekhawatiran di negara tetangga, mengancam stabilitas regional dan memicu protes diplomatik dari berbagai pemerintahan di Amerika Latin.
2. Ketegangan dengan Negara Besar Lain
China dan Rusia mengecam tindakan AS, menilai intervensionisme Washington merusak hukum internasional dan keseimbangan global.
3. Krisis Energi dan Ekonomi
Kontrol atas minyak Venezuela akan berdampak pada pasar energi global, terutama harga minyak dan hubungan perdagangan internasional.
4. Hubungan AS–Cuba
Ekonomi Kuba, yang sangat bergantung pada dukungan Venezuela, kini berada di titik kritis. Ketidakpastian pasokan minyak menimbulkan kekhawatiran akan krisis sosial dan ekonomi yang lebih besar.
5. Preseden Campur Tangan Militer
Langkah AS menimbulkan pertanyaan tentang norma internasional seputar kedaulatan negara dan intervensi militer unilateral.
Kesimpulan
Berdasarkan fakta yang telah dilaporkan oleh media internasional dan sumber berita utama, tidak ada bukti Trump merencanakan “mengambil Cuba” secara langsung setelah Venezuela, tetapi retorik dan kebijakan agresif Washington terhadap Caracas, serta pernyataan Trump mengenai Cuba dan negara tetangga lainnya, mengangkat kekhawatiran luas tentang ekspansi kebijakan militer dan geopolitik AS di Amerika Latin. Fokus utama tampaknya adalah mengamankan energi dan mengurangi pengaruh negara yang dianggap sebagai rival strategis Washington di kawasan itu, bukan aneksasi formal.