Awal tahun 2026 menjadi momen penting bagi dunia perfilman dan televisi Indonesia karena penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam produksi karya visual. Salah satu yang paling ramai diperbincangkan adalah program bertajuk Legenda Bertuah yang diproduksi oleh TRANS7. Program ini diklaim sebagai tayangan televisi pertama di Indonesia yang seluruh produksinya memanfaatkan teknologi AI secara menyeluruh. Mulai dari penulisan naskah hingga visualisasi animasi cerita rakyat Nusantara.
Baca juga : AI Chatbot Indonesia yang Menjadi Langganan Sales Tools
Inovasi Teknologi AI dalam Legenda Bertuah
Legenda Bertuah menghadirkan legenda, dongeng, dan cerita rakyat Indonesia seperti Malin Kundang, Sangkuriang, Timun Mas, dan Rara Jonggrang dalam bentuk visual modern yang dikembangkan melalui AI. Menurut sumber, seluruh tahapan produksi — termasuk pengembangan cerita, penulisan naskah, suara narator, dan visualisasi karakter — menggunakan teknologi AI yang kemudian dikurasi oleh tim kreatif TRANS7. Pendekatan ini dimaksudkan untuk memberikan pengalaman menonton yang sinematis dan relevan dengan penonton masa kini.
Baca juga : AI Chatbot yang Jadi Sales Tools Terbaik di Tahun 2025
Kontroversi dan Kritik Pedas Publik
Meskipun dipromosikan sebagai inovasi, Legenda Bertuah menuai kritik pedas dari publik dan warganet setelah pengumumannya. Banyak komentar negatif muncul di media sosial, terutama soal kualitas visual yang dinilai belum matang dan kurang natural, serta kekhawatiran bahwa penggunaan AI secara penuh menghilangkan “jiwa” karya seni yang selama ini identik dengan sentuhan manusia.
Beberapa penonton mengeluhkan bahwa gerakan karakter dan ekspresi visual terasa kaku dan sulit menghadirkan emosi seperti yang biasa kita lihat pada produksi konvensional. Kritik semacam ini sering muncul pada karya AI ketika mencoba meniru dinamika aktor nyata tanpa kedalaman emosi.
Baca juga : Peran Sales Tools dalam Meningkatkan Kinerja Tim Sales
Kekhawatiran Industri Kreatif
Lebih dari sekadar soal estetika, kritik terhadap Legenda Bertuah juga mencakup kekhawatiran tentang nasib pekerja kreatif di industri perfilman dan televisi. Beberapa pihak, termasuk kreator konten dan penikmat seni, menyatakan bahwa otomatisasi penuh dalam produksi visual berpotensi mengurangi lapangan kerja bagi animator, aktor, penulis naskah, dan pekerja seni lainnya. Kritik ini mencerminkan keresahan terhadap masa depan posisi sumber daya manusia di sektor seni yang mulai terdampak oleh teknologi AI.
Baca juga : Teknik Closing Menggunakan AI Chatbot: Rahasia Sales Digital yang Bekerja Tanpa Henti
Perbandingan dengan Tren Internasional
Isu penggunaan AI dalam karya seni bukan hanya terjadi di Indonesia. Di banyak negara, diskusi tentang regulasi dan etika AI dalam industri kreatif semakin intens. Pemangku kepentingan global tengah mengupayakan perlindungan hak cipta dan menjaga keterlibatan kreator manusia saat AI digunakan dalam proses produksi. Ketidaksiapan regulasi ini menjadi salah satu sorotan kritik, termasuk dari netizen yang memandang langkah TRANS7 terlalu dini tanpa penyesuaian aturan yang kuat di Indonesia.
Baca juga : Penggunaan AI Chatbot sebagai Sales Tools Digital Modern
Alasan TRANS7 Tetap Menggunakan AI
Di sisi lain, pihak TRANS7 dan pendukungnya melihat adopsi AI sebagai langkah strategis mengikuti perkembangan teknologi masa depan. Dengan AI, proses produksi bisa lebih efisien dan memungkinkan visualisasi legenda Nusantara yang sebelumnya sulit diwujudkan dengan anggaran konvensional. Pendekatan ini juga dianggap sebagai cara baru untuk melestarikan budaya melalui media yang sesuai dengan gaya konsumsi generasi muda digital.
Baca juga : Sales Tools Chatbot Berbasis AI Chatbot dengan Harga Murah
Reaksi Komunitas Kreatif
Selain netizen, komunitas animator, penulis naskah, dan pekerja seni lokal turut mengungkapkan pendapat mereka. Sebagian pihak menyambut positif upaya inovasi, tetapi juga menegaskan pentingnya keseimbangan antara teknologi dan peran manusia dalam kreatifitas seni. Banyak yang berharap agar AI digunakan sebagai alat bantu — bukan pengganti — dalam proses kreatif. Perdebatan ini mencerminkan diskusi global tentang batas antara teknologi dan seni.
Baca juga : Apa Itu AI Chatbot dan Kenapa Banyak Bisnis Kecil Mulai Pakai Sebagai Sales Tools ?
Inovasi vs Kritik dalam Industri Perfilman AI
Kasus Legenda Bertuah menunjukkan bahwa AI masuk ranah perfilman tidak selalu berjalan mulus. Walaupun teknologi ini membuka peluang baru untuk produksi visual dan pelestarian budaya, respons publik dan komunitas kreatif memperingatkan tentang aspek kualitas, etika, dan peran manusia dalam seni. Perdebatan ini kemungkinan bakal terus berkembang seiring makin seringnya AI digunakan dalam dunia hiburan.
Baca juga : AI Chatbot Indonesia yang Menjadi Langganan Sales Tools