Selama Ramadan, perilaku konsumen berubah cukup signifikan. Jam tidur bergeser, waktu scroll media sosial pindah, dan keputusan belanja jadi lebih impulsif di jam-jam tertentu. Bisnis yang peka terhadap perubahan ritme ini biasanya menang bukan karena promonya paling murah, tapi karena pesannya datang di waktu yang tepat.
Kalau kamu masih blasting pesan dengan pola jam normal seperti bulan biasa, kemungkinan besar performanya tidak maksimal.
Baca Juga: Strategi Blasting Pesan WhatsApp untuk Promo Sahur & Buka Puasa
1. Perubahan Jam Aktif Konsumen Selama Ramadan
Secara umum, ada tiga momen emas selama Ramadan:
Menjelang sahur (03.00–04.30)
Orang sedang bangun, buka HP sambil makan. Atensi tinggi, distraksi rendah.
Menjelang berbuka (16.30–18.00)
Traffic digital naik. Orang cari makanan, promo, dan kebutuhan mendadak.
Setelah tarawih (20.00–22.30)
Waktu santai. Banyak transaksi terjadi di jam ini, terutama untuk produk non-makanan.
Insight-nya sederhana: Ramadan menggeser prime time. Kalau biasanya jam 12 siang atau 7 malam efektif, sekarang justru dini hari dan menjelang magrib lebih responsif.
Artinya, strategi blasting harus ikut menyesuaikan ritme baru ini.
Baca Juga: AI Chatbot untuk Bisnis Properti: Tangkap Leads Lebih Cepat & Closing Lebih Mudah
2. Pentingnya Timing dalam Blasting
Blasting itu bukan sekadar kirim massal. Ini soal momentum.
Pesan promo sahur yang dikirim jam 10 pagi akan terasa tidak relevan. Sebaliknya, pesan “Menu Sahur Siap Kirim 30 Menit Lagi” yang masuk jam 03.15 terasa kontekstual dan urgent.
Timing yang tepat akan:
Meningkatkan open rate
Meningkatkan click-through
Mendorong keputusan cepat
Dalam konteks Ramadan, urgency + relevansi waktu = konversi lebih tinggi.
Rekomendasi praktis:
Promo sahur: kirim H-1 malam (reminder) + dini hari (push utama)
Promo buka puasa: kirim jam 15.30–16.30
Produk non-food: push setelah tarawih
3. Teknik Segmentasi Database yang Lebih Cerdas
Kesalahan paling sering: semua kontak diperlakukan sama.
Padahal, database kamu biasanya terdiri dari:
Pelanggan lama
Prospek yang pernah chat tapi belum beli
Pelanggan repeat order
Pelanggan high value
Segmentasi sederhana tapi efektif:
Berdasarkan histori pembelian
Yang pernah beli paket sahur → kirim promo upgrade
Yang sering beli buka puasa → kirim bundling hematBerdasarkan lokasi
Promo ongkir atau estimasi kirim relevan banget untuk makanan.Berdasarkan frekuensi interaksi
Kontak dingin jangan langsung dikasih hard promo. Warm-up dulu dengan edukasi atau reminder ringan.
Blasting tanpa segmentasi itu seperti teriak di pasar. Blasting dengan segmentasi itu seperti bicara langsung ke orang yang memang butuh.
4. Contoh Format Pesan yang Lebih Efektif
Hindari pesan panjang dan terlalu banyak emoji. Fokus pada struktur yang jelas.
Contoh promo sahur:
🌙 Promo Sahur Spesial
Menu Ayam + Nasi + Kurma cuma 25K
Siap kirim jam 03.00–04.00
Order sekarang, klik di sini 👉 [link]
Strukturnya:
Headline singkat
Penawaran jelas
Benefit atau urgency
CTA langsung
Untuk buka puasa:
Waktu berbuka makin dekat 🍽
Paket Bukber Hemat untuk 3 orang cuma 69K
Free es teh + sambal spesial
Reply “BUKA” sekarang, kami proses langsung.
Gunakan CTA yang spesifik. Jangan hanya “Info lebih lanjut klik di sini”. Buat tindakan jadi mudah dan jelas.
5. Kesalahan Umum dalam Blasting Ramadan
Beberapa kesalahan yang sering bikin performa turun:
Kirim di jam yang salah
Pesan terlalu panjang
Tidak ada CTA jelas
Tidak ada personalisasi
Spam terlalu sering tanpa value
Selain itu, banyak bisnis lupa menyiapkan sistem. Ketika blasting berhasil dan chat masuk ratusan, admin kewalahan. Respon lambat justru menghilangkan momentum closing.
Di Ramadan, kecepatan balas sering lebih penting daripada panjang penjelasan.
Penutup: Promo Boleh Ramai, Sistem Harus Siap
Ramadan adalah momentum besar. Tapi bukan cuma soal memperbanyak promo.
Strategi blasting yang efektif itu kombinasi dari:
Timing yang tepat
Segmentasi yang rapi
Format pesan yang tajam
Sistem respon yang cepat
Kalau database sudah besar tapi performa masih biasa saja, biasanya masalahnya bukan di produknya — tapi di cara komunikasinya.
Ramadan cuma sebulan. Optimalkan momentum ini dengan strategi blasting yang lebih terukur, bukan sekadar kirim massal.